Tentang PIR

Penyelenggaraan Pengajian I’tikaf Ramadhan (PIR) terkait erat dengan berdirinya Yayasan Shalahuddin. Keberadaan masjid sebagai salah satu elemen utama pesantren juga menjadi bagian dari pembangunan kompleks pesantren ini di mana kegiatan ini kemudian dipusatkan. Berangkat dari pemikiran itulah, maka sejak tahun 1984, Yayasan Shalahuddin mengadakan Pengajian I’tikaf Ramadhan (PIR) yang diikuti para aktivis mahasiswa muslim.

Pelatihan ini spesifik, karena dibuat dengan menggabungkan pelatihan dengan upaya membiasakan diri dengan tuntunan Rasulullah SAW, yakni I’tikaf sepuluh hari terakhir Bulan Ramadhan. Ide awal penyelenggaraan kegiatan ini adalah kegiatan I’tikaf yang digagas oleh Ustadz Suprapto Ibnu Juraimi, yaitu kegiatan yang mencontoh tradisi Nabi Muhammad SAW.

Dimana moment 10 hari terakhir Ramadhan umat Islam disunahkan untuk melakukan ibadah ini di dalam masjid. Menurutnya, kegiatan ini diadakan karena untuk memfasilitasi para mahasiswa dan pemuda yang dinilai saat ini masih jauh dari tuntunan agama, seperti yang ditradisikan Nabi.

Kemudian ide ini didiskusikan bersama pengurus Yayasan pada waktu itu. Ide ini ditanggapi positif oleh Bapak-bapak pengurus Yayasan Shalahuddin.Sementara seperti salah satu tujuan yayasan, Pak Amin Rais (sebagai ketua yayasan Shalahuddin) mengusulkan adanya sebuah bentuk pelatihan kader muda Islam. Maka kedua gagasan ini kemudian digabungkan menjadi sebuah bentuk kegiatan I’tikaf sekaligus training kader muda Islam untuk dibekali pengetahuan-pengetahuan spesifik sesuai trade mark Yayasan Shalahuddin dan kebutuhan Umat.

Dengan demikian, bentuk I’tikaf yang diadakan oleh Yayasan tidak hanya murni I’tikaf, tapi sebuah kegiatan yang menggabungkan antara kegiatan I’tikaf dan kegiatan training.

PIR pertama kali digagas Ustadz Suprapto. Pada waktu itu, sudah ada kesepakatan dari bapak-bapak pengurus yayasan seperti Prof. Drs. Dochak Latief, Prof. Dr. Watik Pratiknya dan juga Prof. Dr. Amien Rais. Pak Amin terutama, menggagas adanya kebutuhan anak muda untuk membantu ide Pak Amien Rais dalam melatih dan mentraining untuk diaplikasikan dalam masyarakat.

Maka bertemulah dengan ide Ustadz Suprapto. Waktu itu Bpk. Zulkifli Halim yang dekat dengan Pak Amien mengajak Said Tuhuleley untuk bergabung dalam penyelenggaraan kegiatan itu karena memang memerlukan orang. Bang Said (Said Tuhuleley) bersama Luqman Hakim adalah aktivis HMI pada waktu itu mencoba menerapkan pola-pola training dalam I’tikaf. Mereka bertiga itulah yang membantu yayasan untuk mengaplikasikan ide Pak Amien, dipadukan dengan ide Ustadz Prapto dalam I’tikaf ramadhan.

Ustadz Prapto merasa bahwa anak muda sudah demikian jauh dari tuntunan Rasulullah yang diajarkan dan dipraktekkan beliau. Itulah awal mula dipertemukannya ide training dengan ide I’tikaf Ramadhan. Kemudian untuk mematangkan ide kegiatan tersebut, mereka bertiga mengadakan rapat pertama kalinya di rumah Ustadz Prapto untuk membicarakan manual acaranya. Dan selanjutnya rapat kedua di rumah Pak Amien Rais pada tanggal 5 Mei 1984, yang dihadiri juga oleh Pak Jafnan sebagai pengurus Yayasan Shalahuddin, Pak Watik Pratiknya, sebagai pelaksana lapangan.

Dan hasil rapat di rumah Pak Amien, kegiatan training diserahkan mereka bertiga (Zulkifli Halim, Said Tuhuleley, dan Luqman Hakim) untuk mengelolanya. Dan rapat terakhir sebelumnya juga diadakan pertemuan-pertemuan di rumah Pak Amien-di rumah Ustadz Prapto untuk finishing konsep kegiatan I’tikaf. Konsep I’tikaf yang dihasilkan dari panitia ini adalah konsep I’tikaf yang menggabungkan kegiatan I’tikaf dan training dengan pendekatan proses-proses pendidikan, di mana proses ini adalah usaha untuk menyatukan antara metode dan isi menjadi dua hal yang penting dalam proses belajar.

Meskipun menggunakan pendekatan model pembelajaran, namun kegiatan ini mempunyai perbedaan dengan proses pembelajaran formal sekolah. Kalau proses pendidikan di sekolah kegiatan belajar meliputi pengelolaan kelas dan proses belajar, sedang dalam kegiatan I’tikaf Ramadhan meliputi pengelolaan kelas, proses pembelajaran, dan bimbingan rohani peserta belajar di mana ustadz Suprapto sendiri sebagai imam sekaligus pembimbing ruhaninya.

Di sinilah ciri khas Pengajian I’tikaf Ramadhan yang kemudian ketiga hal tersebut disatukan dalam sebuah aktivitas sistem pembelajaran. Dalam pelaksanaan yang pertama kalinya Pengajian I’tikaf Ramadhan menggunakan model-model pembelajaran dengan menggunakan pendekatan andragogi, di mana setiap peserta terlibat dalam interaksi kegiatan belajar yang memungkinkan peserta untuk memberikan pengetahuan dan pengalamannya dalam setiap sesi kegiatan.

Pada awalnya, kegiatan Pengajian I’tikaf Ramadhan bernama Training I’tikaf Ramadhan (TIR). Tapi nampaknya frasa training ini menimbulkan kecurigaan bagi rezim penguasa waktu itu, karena situasi politik sekitar tahun 1984 bagi umat islam yang tidak baik, apa lagi training yang diberikan kepada para mahasiswa dan pemuda Islam dalam masjid. Jelas ini merupakan hal yang riskan.

Dan dari pertimbangan rapat Yayasan, terutama oleh Bapak Dochak Latief akhirnya untuk menetralkan frasa training, digantilah dengan kata pengajian. Meskipun demikian, substansinya tetap sama, yakni training kader digabungkan dengan I’tikaf. Bahkan untuk mensiasati dari intaian intel pada waktu itu, jadwal I’tikaf pun dibuat menjadi dua. Jadwal yang ditempel untuk konsumsi publik, di mana di situ jadwal materinya dituliskan sesuai dengan keinginan pemerintah, misalnya materi tentang pendidikan ideologi diganti dengan Pancasila. Sementara jadwal yang sesungguhnya tidak ditempel.

Selanjutnya dalam perjalan PIR dari tahun ke tahun terus mengalami perubahan, misalnya unsur-unsur pelajaran tentang peta dakwah itu masuk. Misalnya saat itu Labda sedang gencar-gencarnya mengkampanyekan tentang perlunya peta dakwah, pada saat itu masuk hampir ke seluruh gerakan dakwah termasuk Departemen Agama. Labda membuat untuk itu, lalu peserta dilatih bagaimana membuat peta dakwah, sehingga dapat dikatakan bahwa training itu memuat muatan-muatan yang bersifat temporal, muatan-muatan yang tergantung dari apa yang menjadi tema besar Labda.

Pada waktu Labda gencar dengan Perencanaan Strategi Dakwah, maka Strategi Dakwah menjadi bagian yang penting, karena Labda sedang mengkampanyekan strategis dakwah dan PIR sebagai salah satu pengkaderan, maka di PIR itulah kader-kader dilatih. Dalam PIR pertama dan kedua belum terstruktur, dalam arti PIR belum membuat penjadwalan yang begitu ketat. Namun demikina, PIR selanjutnya dibuat terstruktur, misalnya telah dimasukkannya kajian-kajian Al-Quran yang dibuat terstruktur, tadarus-tadarus distrukturkan mulai sejak PIR ketiga. Penstrukturan inilah yang kemudian dalam setiap kegiatan peserta diberi materi-materi training dan tadarus yang berupa buku panduan.

Sumber: Nurhadi, Adib. 2004. Laporan Kegiatan Pengajian I’tikaf Ramadhan (PIR) XXII 1425 H Laboratorium Dakwah Yayasan Shalahuddin. Demokratisasi Pendidikan untuk Masa Depan Umat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: